Dulu Ditakuti, Kini Dipuji: Ini Rahasia Nusakambangan Jadi Pusat Produksi Pangan RI

oleh -14 Dilihat

Menteri Imipas saat mendampingi Titiek Soeharto meninjau kreativitas warga binaan di Lapas Nusakambangan. foto:ist

CILACAP – Siapa yang menyangka, Nusakambangan yang selama ini dikenal sebagai pulau dengan penjara berisiko tinggi kini menjelma menjadi kawasan produktif yang menghasilkan pangan, membuka lapangan pembinaan, dan menumbuhkan harapan baru bagi warga binaan.

Perubahan besar tersebut mendapat apresiasi langsung dari Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, saat melakukan kunjungan kerja ke Nusakambangan, Sabtu (20/6/2026). Didampingi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas) Agus Andrianto, Titiek menyaksikan secara langsung transformasi kawasan pemasyarakatan yang kini berkembang menjadi sentra ketahanan pangan sekaligus pusat pembinaan kemandirian bagi warga binaan.

FOTO: IST
Ketua komisi IV DPR-RI, Titiek Soeharto kagum atas kreatifitas dari warga binaan di lapas Nusakambangan.

Dalam kunjungannya, Titiek meninjau berbagai program unggulan yang telah berjalan, mulai dari Workshop Fly Ash Bottom Ash (FABA), sektor pertanian dan peternakan, produksi pupuk organik, Balai Latihan Kerja Konveksi, pengolahan sampah, budidaya perikanan, tambak udang vaname, hingga budidaya sidat. Beragam program tersebut dinilai tidak hanya mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi sarana pembentukan keterampilan dan karakter warga binaan agar siap kembali ke tengah masyarakat.

“Biasanya kalau mendengar Nusakambangan yang terbayang adalah tempat yang menyeramkan. Namun setelah melihat langsung, saya sangat terkejut dan bangga. Kawasan ini begitu produktif, tertata, dan mampu menghasilkan banyak produk yang bermanfaat untuk masyarakat,” ungkap Titiek.

Ia pun memberikan apresiasi tinggi kepada Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan beserta seluruh jajaran yang dinilai berhasil menghadirkan wajah baru pemasyarakatan Indonesia. Menurutnya, berbagai inovasi yang dikembangkan di Nusakambangan layak menjadi contoh dan direplikasi di berbagai lapas dan rutan di seluruh Indonesia. Transformasi Nusakambangan menjadi bukti bahwa pemasyarakatan tidak hanya berbicara soal pembinaan di balik tembok penjara, tetapi juga tentang membangun kembali masa depan manusia melalui pendidikan, keterampilan, dan kesempatan kedua.

Sementara itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyambut baik berbagai masukan yang disampaikan Komisi IV DPR RI. Menurutnya, dukungan legislatif menjadi energi tambahan bagi jajaran pemasyarakatan untuk terus meningkatkan program ketahanan pangan nasional yang saat ini tengah digalakkan.

Agus menjelaskan, seluruh Lapas dan rumah tahanan di Indonesia didorong untuk mengoptimalkan lahan yang tersedia guna mendukung program ketahanan pangan. Upaya tersebut tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan internal pemasyarakatan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

“Kami melaporkan bahwa seluruh Lapas dan rutan terus mengoptimalkan lahan yang ada untuk membangun program ketahanan pangan. Ini menjadi bagian dari upaya pembinaan sekaligus kontribusi pemasyarakatan terhadap kebutuhan pangan nasional,” kata Agus.

Saat ini, Nusakambangan telah mengelola sekitar 135 hektare lahan produktif yang melibatkan ratusan warga binaan dalam berbagai kegiatan usaha. Dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, konveksi hingga pengolahan sampah, seluruh program dirancang untuk membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat menjadi bekal kehidupan setelah bebas nanti.

Lebih dari sekadar menghasilkan komoditas pangan, transformasi Nusakambangan menghadirkan makna yang lebih dalam: mengubah stigma menjadi prestasi, mengubah keterbatasan menjadi produktivitas, dan mengubah masa lalu menjadi harapan baru. Dari pulau yang dulu identik dengan hukuman, kini tumbuh semangat kemandirian dan optimisme bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hidup dan kembali berkontribusi bagi bangsa. (

No More Posts Available.

No more pages to load.