Gema Restorasi Melawan Framing: Protes Keras,Andika Sekretaris DPW GPND terhadap Majalah Tempo

oleh -7 Dilihat

Penulis : Andika, SPd. M.Pd, CHTC adalah Sekretaris DPW Garda Pemuda Nasdem Jambi

ESKALASI ketegangan antara institusi politik dan media massa kembali memuncak. Pemberitaan Majalah Tempo edisi pertengahan April 2026 yang menyematkan label “pragmatis” kepada bapak Surya Paloh memicu gelombang perlawanan dari jutaan kader Partai NasDem di seluruh penjuru Indonesia.

Puncaknya, laporan utama bertajuk “PT NasDem Indonesia Raya TBK” dinilai bukan sekadar kritik jurnalistik, melainkan sebuah upaya sistematis dalam merendahkan martabat partai dan pemimpin tertingginya.

Gelombang protes ini bukan tanpa alasan. Para kader, mulai dari pusat hingga daerah, merasa bahwa Tempo—yang selama ini dikenal sebagai pilar demokrasi—telah melenceng dari rel jurnalisme yang sehat. Judul dan ilustrasi sampul yang menyamakan partai politik dengan entitas bisnis (PT/Tbk) dianggap sebagai penghinaan terhadap semangat Restorasi Indonesia yang menjadi nafas perjuangan partai.

Andika, Sekretaris DPW Garda Pemuda NasDem Jambi, menegaskan bahwa framing tersebut sangat menyesatkan:
“Tempo secara sengaja membangun opini bahwa Partai NasDem hanyalah lembaga komersial semata. Ini sangat bertentangan dengan esensi partai yang mengedepankan gerakan perubahan.”

Tuntutan Terhadap Etika Jurnalistik
Kader NasDem menilai bahwa laporan tersebut jauh dari prinsip check and balance. Alih-alih memberikan informasi yang edukatif, gaya penulisan yang digunakan dianggap bersifat insinuatif dan tidak bertanggung jawab. Beberapa poin utama yang menjadi tuntutan para kader adalah:

Permintaan Maaf Terbuka:* Majalah Tempo didesak untuk meminta maaf secara tertulis kepada Bapak Surya Paloh dan institusi Partai NasDem.
Pemulihan Martabat: Menuntut media untuk mengedepankan kaidah jurnalistik yang objektif dan tidak tendensius dalam membangun opini publik.

Perselisihan ini menjadi potret nyata betapa tipisnya batas antara kritik tajam dan pelecehan institusi. Bagi keluarga besar NasDem, kritik adalah vitamin demokrasi, namun fitnah dan pembunuhan karakter melalui framing media adalah garis merah yang tidak boleh dilampaui. Kini, publik menanti bagaimana mekanisme jurnalisme dan hak jawab akan menyelesaikan kemelut ini, demi menjaga marwah demokrasi yang tetap beretika. Tutupnya.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.